Tuesday, May 31, 2016

Roti Isi Selai Cokelat Kacang

“Apa yang akan kau beli di kantin, Jo?”
“Hmmm, apa ya,” mulutku mengerucut. “Mungkin roti isi selai cokelat kacang itu?”
Eloise menjulurkan lidah. “Yuck, aku benci kacang.”
“Kalau begitu, kamu beli apa?”
“Mungkin sandwich isi tuna yang baru itu. Kudengar dari Hayley rasanya sangat lezat. Apalagi mayonais-nya yang sangat berasa musim pan—” Eloise menyenggol sikuku. “Hei, apa yang sedang kau lihat, sih?”
Pandanganku terfokus pada seorang cowok di ujung lorong yang asyik bercanda dengan temannya. Aku tahu kebiasaannya untuk membeli roti isi selai cokelat kacang di kantin, sepuluh menit sebelum istirahat usai.
“Aduh aduh, Joanne,” keluhan Eloise terdengar samar-samar. “Kenapa sih, kamu tidak memperbaiki hubunganmu dengan dia?”
Aku tersenyum. “Tidak, Loi. Tidak semua hal yang sudah terjadi bisa kuulang lagi.”

***
Lisse, Netherlands 2000
Aku mempercepat langkahku, berusaha tidak kehabisan napas. “Teo! Ayo dong cepetan!”
“Sabar dong, Jo!” seru Teo sambil mengunyah roti isi selai cokelat kacangnya.
“Teo, Teo,” aku menggeleng. “Ke Nederland pun kamu masih makan roti itu?”
“Hei, ini roti terenak sedunia tahu!”
Aku tertawa renyah. Gumpalan asap terbentuk karena cuaca yang masih agak dingin di sini. Papa-mamaku dan Teo berjalan di belakang kami, tertawa melihat kami yang sering bertengkar kecil.
Papa dan mama bertemu di tanah indah ini, Nederland. Papa berasal dari Nederland, pertama kali melihat mama saat sedang berwisata dengan mama Teo ke sini. Mama dan mama Teo memang sudah bersahabat sejak kecil. Mama Teo juga bertemu suaminya di Nederland, hanya dalam waktu yang berbeda. Itulah mengapa, aku dan Teo bisa menginjakkan kaki di tanah Nederland meski kami masih berusia 5 tahun waktu itu.
Keluarga kami memutuskan menggelar piknik di tengah ladang tulip, berlatar belakang kincir angin. Aku dan Teo masih saling rebut roti isi selai cokelat kacang. Akhirnya mama membagi dua roti itu dan kami selesai menangis.
“Joanne,” panggil Teo sambil terisak. “Nanti kalau sudah besar, kita ke sini lagi ya?”
Keukenhof. Waktu bunga tulip bermekaran, angin semilir sejuk bertiup, langit cemerlang dengan awan sebentuk gulali. Pemandangan paling membuai mata yang pernah kusaksikan seumur hidupku.
“Iya,” jawabku singkat.
“Janji?”
“Janji.”
***

Jakarta, Indonesia 2011
Akhir-akhir ini aku bingung dengan lokerku yang selalu terdapat tulisan aneh semacam mati kau, perebut cowok orang, dan berbagai macam umpatan kasar lainnya. Awalnya aku mengira si pengirim salah loker, karena loker di sebelahku adalah milik Carla yang sering mendapat perlakuan seperti itu, tapi ini sudah berlangsung empat hari berturut-turut, jadi kupikir ada yang tidak beres.
“Wah, itu kriminal namanya,” tukas Eloise ketika aku bercerita tentang hal itu padanya.
                “Hmmm…”
           Air muka Eloise tiba-tiba berubah. “Jo, kamu… tidak ada masalah dengan Mildred kan?”
           “Mildred?” gumamku heran. “Aku bahkan jarang bicara dengannya!”
           Eloise menarikku agar percakapan kami tidak bisa didengar orang lain. Aku mendengarkannya ngeri dan heran bukan main. Ekspresi Eloise serius sekali.
                “Astaga, Loi,” kataku. “Tapi Mildred suka dengan cowok dari sekolah lain!”
                Eloise mengangkat bahu. “Dia memang jahat kan? Lihat saja Carla.”
                Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kantin dan mendapati Carla membawa tujuh gelas jus sekaligus. Tidak ada yang berniat menolongnya karena di sisinya ada Mildred dan gengnya mengawal.
                Ketika Mildred menangkap pandanganku, aku langsung kembali menghadap Eloise. “Loi, aku sungguh tidak mau mencari masalah dengannya.”
                “Tenang saja, aku tahu pasti kamu tidak bersalah,” ujarnya. “Teo sudah tahu?”
                Aku menggeleng lemah.

***

                “Perebut cowok orang.”
                Tengkukku merinding. Sepertinya tadi ada yang berbisik di telingaku. Aku berbalik, mendapati Annette berbisik dan menatapku tajam. Aku berusaha menghiraukannya dan kembali mengunyah roti isi selai cokelat kacang dalam perjalananku ke kelas. Eloise menungguku dengan bekalnya.
                “JO!!” suara yang sangat kukenal.
                “TIMOTEO!” umpatku kesal. “Berapa kali harus kubilang jangan sembarang rangkul!”
                “Hahaha, maaf deh,” Teo menggaruk rambutnya. “Ngomong-ngomong, kemarin aku membuat high-score baru di game aneh yang disarankan olehmu itu, Jo!”
                “Begitu?” ucapku, tapi mataku menatap ke arah geng Mildred di depan kelas 2-3. “Bagus.”
                “Ada apa, sih?” tanya Teo heran, lalu mengikuti arah pandangku. “Wah! Mildred!”
                Aku memutuskan untuk tidak memberitahu Teo tentang perkara loker, dan tidak bertanya tentang apa sebenarnya hubungannya dengan Mildred.
                “Teo, aku balik ke kelas duluan ya,” kataku akhirnya.
                “Eh? Jo! Tunggu! Aku juga mau ke kelas!”
                Aku berjalan tanpa membalikkan punggungku.

***

                “Jo, aku heran dengan Mildred,” celetuk Teo dalam perjalanan pulang sekolah, yang selalu kami tempuh bersama dengan bersepeda.
                “Kenapa?”
                “Jadi begini ya, dia itu seperti memberi harapan untukku,” kisah Teo. “Tapi kata Annette dia suka dengan cowok dari sekolah lain. Kan aku jadi bingung.”
                “Mungkin Annette salah?” kataku. “Atau mungkin Mildred sudah merubah arah hati tanpa memberi tahu Annette.”
                “Wanita memang susah dimengerti…”
                “Tapi, Teo,” aku mengambil jeda sedikit. “Kamu harus tetap berjuang, karena dialah yang selalu kamu mimpikan, bukan begitu?”
                “Aku tahu itu, aku berusaha, Jo.” gumamnya. “Bagaimana, Dieter?”
                “Wah, aku sudah tidak mengharapkan apapun lagi tentang dia,” di benakku terbayang wajah Dieter, atlit voli sekolahku yang sangat tampan, walaupun dingin. “Bagiku sekarang yang paling penting adalah sahabat.”
                “Benar juga. Habis kalau tidak ada teman sepertimu, ke siapa aku harus bercerita ya.”
                “Aku tidak bilang kamu penting loh, Teo.”
                “Aku juga tidak bilang kamu penting.”
                Aku sengaja menabrakkan roda depan sepedaku ke pedal Teo. “Kalau nanti kamu sudah ada di gandengan Mildred, jangan sombong ya.”
                “Kamu juga jangan suka membicarakan aku kalau nanti jadian dengan Dieter.”
                “Kamu jangan lupa traktir aku roti isi selai cokelat kacang.”
                “Kamu masih berhutang satu mangkuk ramen di kedai waktu itu.”
                Aku menghela napasku pelan. “Jangan pergi, Teo.”
                “Hei,” Teo turun dari sepedanya, mengusap air mataku yang sudah bercucuran. “Sejauh apapun seorang sahabat pergi, jika ia adalah sahabat sesungguhnya, pasti ia akan pulang.”
                Hening sejenak.
                “Dan Jo, aku bersyukur telah menemukan rumahku.” ujarnya misterius.

***

                Eloise akhir-akhir ini jarang masuk karena ibunya harus dirawat di rumah sakit. Biasanya, ada Teo yang menemaniku ke kantin, tapi sekarang frekuensi keberadaannya bisa dihitung jariku. Bahkan dia tidak pernah meminta jawaban pekerjaan rumah matematika saat istirahat seperti kebiasaannya dulu.
                Jadi di sinilah aku, duduk di kelas sendirian, di mejaku yang dekat dengan jendela. Memakan roti isi selai cokelat kacang tanpa minat dan melayangkan pandanganku ke awan yang seperti gulali.
                Mildred merapat ke sisiku, membuatku ambil jarak sedikit. “Wah, sepertinya ada yang sendirian?”
                Aku terlalu malas untuk menanggapinya.
                Mildred berdecak. “Jangan sombong deh. Sekarang lo sudah sendiri. Sen-di-ri.”
                Satu sentipun aku tidak bergerak, membuat Mildred menatapku sengit. Dia hendak menendang mejaku ketika suara seorang cowok menghentikannya.
                “Minggir. Ini meja gue.”
                “Apa-apaan sih!” Annette segera bersiap memukulnya.
                “Ini. Meja. Gue.” tegasnya. “Pergi.”
                Geng itu segera keluar kelas sambil bersumpah serapah. Entah mengapa, sedikit rasa lega muncul di hatiku.
                “Enakan roti isi krim pisang madu,”
                “Eh?”
                “Roti isi selai cokelat kacang terlalu manis,” lanjutnya, lalu membuka kemasan roti.
                “Jangan ngomong sama gue,” kataku sok tegar. “Nanti lo dimusuhin juga.”
                Alis cowok itu mengernyit. “Apa peduli gue? Gue ngomong dengan orang yang gue mau.”
                Air mataku sudah menggenang. Selama ini, dia hanya teman sebangkuku yang sering mengoceh tentang musik dan film pahlawan super. Aku tidak pernah menyangka cowok ini yang akan menyelamatkanku.
                “Ei! Jangan nangis dong! Entar gue dikira yang aneh-aneh!” ia mengambil tisu dan memberikannya padaku.
                “Jose,” panggilku setelah puas terisak. “Makasih.”
                Ia menepuk kepalaku pelan.

***

                Jose masih memaksaku untuk mencoba roti isi krim pisang madu sampai saat ini. Aku berkeras pada roti isi selai cokelat kacang, karena meskipun tidak berbicara dengan Teo lagi, setidaknya aku masih makan roti yang sama dengannya.
                Jose bilang itu alasan bodoh, tapi hanya hal itu yang terlintas di benakku setiap kali aku membeli roti isi selai cokelat kacang. Lagipula, malas rasanya kalau harus makan roti yang sama dengan Jose. Maksudku, dia pasti akan sombong setengah mati, mengetahui aku tergoda juga oleh roti unggulannya.
                Hari itu, Eloise tidak masuk lagi. Jadi mau tidak mau, aku pergi ke kantin bersama Jose. Sepanjang jalan ke kantin, pandangan sebal terhujam ke arahku. Aku tahu pasti itu perbuatan Mildred. Tapi aku merasa mendingan karena Jose selalu berbuat hal kocak selama kami berjalan bersama.
                Ketika kami berbelok di lorong kantin, aku mendapati Teo memandangku. Aku segera mengajak Jose untuk mempercepat langkah, ia pun melaksanakan walau agak kebingungan. Kakiku terhenti ketika Teo menggenggam tanganku. Jose langsung jalan cepat kembali ke kelas. Aku terpaku, tidak memiliki nyali menatap mata Teo.
                “Kita harus ngomong banyak hal. Bukan begitu?” aku tahu ini bodoh, tapi suara Teo saja membuat seluruh tubuhku gemetar. “Ayo, ke lapangan.”

***

                “Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Teo.”
                “Aku benar-benar minta maaf, Joanne.” Teo menundukkan kepalanya. “Sungguh, aku minta maaf.”
                “Tidak ada yang perlu dimaafkan juga,” aku menegakkan tubuhnya. “Kamu sudah membuat keputusan yang benar. Mildred itu orang yang kamu suka sejak sekolah dasar. Aku cuma temanmu, Teo, tidak lebih. Bahkan mungkin sekarang teman pun bukan.”
                “Itu gak benar!!!” ucapnya cepat. “Jo, kamu sahabatku yang paling berharga. Ingat itu, Jo.”
                “Hidup itu tentang pilihan,” aku duduk di kursi penonton lapangan rugby sekolah. “Dan pada akhirnya, sangat wajar bila kamu memilih kekasih dibandingkan sahabatmu. Aku mengerti. Kamu hidup sampai tua dengan kekasih hatimu, bukan dengan sahabat.”
                “Kamu membuat ini semua terlalu mudah, Jo.”
                “Memangnya aku harus bagaimana?”
                “Ini, karena kamu sudah dengan Jose?”
                “Tidak ada hubungannya dengan Jose,” tandasku. “Dia ada di saat aku membutuhkannya. Itulah definisi sahabat bukan?”
                Teo menatapku nanar. “Jadi selama ini kamu anggap aku apa?”
                “Sebelum masalah ini, kamu kakak lelaki yang tidak pernah aku punya,” kataku perlahan. “Sekarang kamu bahkan membela dia, bahkan ketika kamu tahu aku tidak bersalah.”
                “Joanne..”
                “Sudah, Teo. Aku mengerti. Pergilah.”
                “Aku tidak akan pergi sampai kamu memaafkanku.”
                “Kamu pandai sekali memainkan perasaanku,” ucapku bergetar menahan emosi. “Kamu kira aku apa? Kamu mendiamkanku sepanjang waktu dan tidak melakukan apapun saat aku ditindas Mildred, dan sekarang kamu bilang kamu tidak akan pergi?”
                Aku mendengus. “Cukup, Teo.”
                “Jo, aku..”
                Sebelum Teo sempat menyelesaikan ucapannya, aku berlari kembali ke kelas. Bulir-bulir bening mengaliri wajahku, membuat semua orang yang melihatku tertawa jijik.
                Aku tidak peduli.

***

Jakarta, Indonesia 2012
                “JOANNE!” aku mendongak dan mendapati Eloise berdiri di hadapanku, membawa selebaran kertas. “Kamu sudah memutuskan masuk universitas mana?”
                “Aku tidak tahu universitas mana tepatnya,” jawabku. “Tapi sudah pasti di Nederland.”
                Eloise tertawa pelan, lalu duduk di kursi Jose. “Dari sekolah menengah pertama, kamu selalu menjawab itu.”
                Aku hanya menjawabnya dengan senyuman, kemudian teringat pada Teo. Apakah dia akan kuliah di sana juga? Apakah dia masih ingat dengan janjinya? Ah. Saat berpikir tentang Teo, aku ingin sekali kembali seperti dulu. Pohon mapel sekolah yang berada tepat di tengah lapangan membuatku ingat saat-saat kami pulang bersama, menggowes sepeda di bawah rindangnya daun mapel merah yang berguguran.
                Pintu kelas terbuka menimbulkan bunyi berdecit. Aku dan Eloise segera melihat Teo masuk kelas dengan wajah murung. Rasa heran muncul di benakku karena biasanya Teo selalu bersama Mildred akhir-akhir ini. Aku merasakan dorongan dalam hatiku untuk menanyakan ada apa padanya, tapi egoku menahannya.
                “Kamu gak tanya dia kenapa?” Eloise menjentikkan jari di depanku yang bengong.
                “Tidak,” jawabku pelan. “Dia baik-baik saja tanpaku, Loi.”
                Aku mengatakan itu karena beberapa dari teman sekelas kami, seperti Franco dan Miguel segera menepuk bahu Teo pelan. Dalam seketika, Teo sudah tersenyum kembali.
Senyumnya yang selalu mengingatkanku pada bunga tulip.

***

Aku sedang menaruh buku pelajaran sains di loker ketika tidak sengaja mendengar Annette berkasak-kusuk dengan Katya, teman se-gengnya.
“Wah, jadi benar tuh, Mildred suka dengan Franco?” alis Katya terangkat, kaget.
“Iya benar!” suara Annette terdengar yakin. “Sebenarnya aku kasihan juga dengan Teo.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Kemarin kita ke karaoke kan? Nah, aku dan Mildred kan memutuskan untuk pulang duluan,” jelas Annette pada sahabatnya itu. “Aku sih, disuruh belanja ke supermarket menemani mama. Lalu saat di stasiun, aku melihat Mildred menggandeng tangan Franco!”
“Ah, mungkin hanya kebetulan!” Katya tidak percaya.
“Dengar dulu dong!” Annette bersikeras. “Setelah itu, aku mengikuti mereka. Dan mereka skating di arena dekat stasiun itu. Mereka terlihat sangat mesra, percayalah!”
“Hahahaha, Mildred juga bilang padaku sih, dia hanya malas melihat Joanne—saingannya di klub voli dekat dengan Teo,” tawa Katya. “Katanya, Joanne tidak pantas untuk idola sekolah seperti Teo.”
Teo memang begitu adanya. Rambut cokelat, hidung mancung, mata hazelnut, badan ala anak klub sepakbola, dan otak yang cemerlang.
“Joanne tidak buruk-buruk amat, sih,” Annette menyela. “Rambut pirang dan mata birunya itu. Enak sekali menjadi anak blasteran!”
“Sayangnya dia bodoh, menyerahkan Teo ke Mildred. Padahal jelas-jelas Teo pun ada rasa padanya.”
Aku segera membanting loker, lalu berlari ke tempat parkir sepeda. Pikiranku sudah tidak sanggup menerima informasi busuk macam itu. Aku ingin berlari ke tempat Teo, meyakinkannya kalau memilih Mildred adalah salah. Tapi itu semua sudah terlambat. Teo bahkan tidak pernah melirikku di sekolah. Ia berlatih dengan klub sepakbola setiap hari sampai petang.
Masa-masa indahku dengan Teo sudah berlalu.

***

Jakarta, Indonesia 2013
Gaunku menyangkut di pintu mobil ketika aku menutup pintunya. Jose dengan sigap membukanya kembali, lalu menggandeng tanganku. Wali kelasku menjabat tangan semua orang yang datang, mengenakan jas yang keren.
“Selamat ya, Joanne, Jose.” ujarnya, aku tersenyum dan agak membungkuk. Beliau sudah bekerja keras mengurusi anak kelas dua belas yang nakal-nakal di kelasku.
“Terima kasih atas bimbingan Bapak selama tiga tahun ini.” kata Jose mewakiliku.
Kami pun melanjutkan masuk ke dalam aula sekolah yang telah disulap menjadi ballroom bertemakan hitam-ungu. Eloise melambai-lambai ke arahku. Miguel ada di gandengannya. Setelah mengungkapkan perasaan saat libur musim panas tahun lalu, cinta Eloise akhirnya terbalas.
Prom kelas dua belas adalah hal yang paling ditunggu-tunggu anak sekolahan mana pun. Berdansa dengan pasanganmu dengan alunan waltz, bersenda gurau dengan gengmu untuk terakhir kalinya di sekolah menengah atas, dan menandakan umurmu sudah cukup untuk menjelajah dunia luas.
Jose mengajakku ke prom minggu kemarin. Katanya, dia sudah tidak punya pilihan lain lagi, daripada datang sendirian. Aku menyanggupinya karena memang tidak ada orang spesifik yang aku inginkan untuk berdansa dengannya. Jadi sekitar 45 menit yang lalu, Jose menjemputku di depan rumah.
Papa dan mama sempat heran, mengapa bukan Teo yang menjemputku. Aku belum membicarakan perkaraku dengan Teo kepada mereka karena terlalu menyakitkan. Setelah berbincang sebentar dengan orangtuaku, kami berdua pun berangkat ke prom.

***

Eloise muncul dari belakangku. “Mau makan apa Jo?”
Dari tadi, aku sudah memperhatikan éclair isi cokelat kacang di bagian pastry. “Aku mau kesana. Tinggal satu éclair-nya! Aku harus bergegas!”
Memakai gaun panjang agak memperlambat jalanku, tapi aku tetap berjalan secepat yang aku bisa. Aku mengambil piring kecil, lalu menggunakan capit untuk memindahkan éclair ke piringku. Tepat saat capitku menyentuh éclair, sebuah capit lain juga menyentuhnya.
Hatiku kacau bukan main melihat pengguna capit itu. Mata hazelnut yang tidak akan aku lupakan. “Teo.”
“Ah, hei,” katanya kikuk. “Silakan, ambil saja untukmu.”
“Tidak usah. Ini favoritmu kan?”
“Tidak apa, bena—“
Ucapan Teo terputus saat Mildred meraih tangannya dan mencapitkan éclair itu ke piring Teo. Aku membatu.
“Ayo pergi, Teo.” Mildred menyipitkan matanya ke arahku tanda kemenangan.
Tanpa kusadari, Jose sudah berdiri di belakangku. Mataku langsung berkaca-kaca. Cowok itu benar-benar selalu ada saat aku membutuhkannya.
“Jangan nangis, nanti make-up-nya luntur,” ia mengusap pipiku. “Dansanya udah mau mulai, shall we?”
Aku menyambut ajakan tangan Jose yang terulur.

***

Aku dan Jose memang bukan penggemar Mozart atau Chopin, tapi kami berdansa dengan cukup baik. Sekali-kali, Jose melontarkan lelucon yang membuat tawaku meledak. Seru sekali berteman dengan orang yang suka bergurau.
“Ngomong-ngomong, Jo,” Jose mempererat genggamannya. “Bagaimana beasiswa lo ke Nederland?”
“Masih di proses,” jawabku. “Lo jadi ke Amerika kan?”
“Iya,” lagu Blue Danube mengalun pelan. “Ini hari terakhir kita bertemu loh, Joanne.”
“Gue bakal kangen lo, deh,”
“Terpaksa banget ngomongnya,”
Aku kembali tertawa, dan Jose menghentikan dansanya tiba-tiba.
“Kenapa?”
Jose terdiam beberapa detik.
“Joanne,”
“Iya?”
Blue Danube memenuhi ruangan.
“Sebelum gue pergi, gue mau ngomong ini.”
“Serius banget kelihatannya. Ada apa memang?”
“Joanne,” panggilnya untuk yang ke dua kali.
“Iya, Jose?”
“Please be mine.”
“Bercanda lo gak lucu deh.”
“Gue selama ini peduli sama lo, Joanne. Gue selama ini merhatiin gimana lo disakiti terus menerus sama Teo. Lo juga pantas bahagia.”
Aku tidak dapat membalas perkataan Jose.
“Joanne, kita hanya akan kuliah selama 4 tahun, setelah itu kita akan bersama terus. Gue janji.”
Aku tahu aku akan bahagia bersama Jose. Aku tahu pasti. Tapi hal kedua yang aku tahu pasti adalah, hatiku milik Teo. “Maaf, Jose. Gue bener-bener gak bisa.”
“Kenapa? Karena Teo?” Jose mencengkram bahuku. “Jangan, Joanne.”
“Jose,” aku memandang mata Jose yang sehijau koral. “Kamu adalah sahabatku yang sangat berharga. Aku suka kamu, sangat. Tapi ada perbedaan tipis antara cinta dan suka, Jose.”
“Kalau begitu jelaskan,”
“Kalau kamu di ladang bunga, lalu kamu melihat bunga yang indah, apa yang akan kamu lakukan?”
“Memetiknya, gue jadiin koleksi bunga kering.”
“Itu namanya suka, Jose,” aku tersenyum simpel. “Kalau kamu cinta, kamu tidak akan memetiknya, melainkan membiarkannya tumbuh, dan mekar karena siraman airmu.”
Gantian Jose yang terdiam.
Aku mengehela napas, lalu menggenggam tangan Jose. “Suatu saat, kamu akan temukan cintamu. Bunga yang ingin kamu rawat seumur hidupmu. Dan itu bukan aku. Aku tidak cukup baik untuk kembali menyiramimu.”
“Sungguh Jose, terima kasih.”
Aku melangkahkan kaki keluar aula, dan menelepon papa untuk menjemputku, meninggalkan Jose yang masih terdiam.
“Bagaimana kamu tahu bunga itu bukan kamu, Joanne?”

***

Lisse, Netherlands 2015
                Harum tulip menyergapi hidungku. Sudah lama sekali aku tidak datang ke Lisse, terakhir kali saat aku berumur lima tahun dulu. Hamparan tulip yang sangat indah membuatku seketika melupakan tugas kuliah yang menumpuk dan menjernihkan pikiran.
                Teo. Dimana ya, dia sekarang?
                Terakhir kali aku melihat Teo adalah saat prom SMA dulu. Jose masih meneleponku sekali-kali, dan memintaku berkunjung ke New York untuk melihat kampusnya yang super keren. Aku juga menyuruhnya melihat Nederland yang asri dan menenangkan. Eloise meneruskan kuliah di Jakarta, mengejar cita-citanya menjadi sastrawan dan penerjemah. Tahun lalu, dia berkunjung ke sini.
                Sedangkan Teo?
                Sesudah berkeliling selama dua jam, aku menyusuri jalan yang telah kulalui untuk pulang dengan naik bus. Sekelebat aku mencium harumnya selai cokelat kacang di antara tulip dari belakangku. Aku membalikkan tubuh karena penasaran.
                Mata hazelnut itu, aku tidak pernah salah. Dan roti itu. Terlalu pas untuk kebetulan.
                “Aku berhutang padamu éclair.” Suara itu. “Jadi kubayar dengan roti ini.”
                Tangisanku pecah saat itu juga. Dia segera mendekat dan memelukku erat.
                “Janji adalah janji bukan?”
                “Kenapa?”
                “Karena aku tahu kamu kangen roti isi selai cokelat kacang.”
                Teo tepat sekali. Lidahku kangen dengan roti yang selalu kumakan saat SMA dulu.
                “Kamu tidak akan pergi lagi?”
                Teo menggeleng. “Sometimes a home is two eyes and a heartbeat.”
                
***

Keukenhof. Musim di mana bunga kebanggaan Nederland dalam kondisi terindahnya. Langit cemerlang dengan awan sebentuk gulali. Bersama sepasang mata hazelnut itu, dan roti isi selai cokelat kacang. Tulip mekar yang memegang janjiku dengannya.
                “Hei, Teo,”
                “Hmmm?”
                “Welcome home.

No comments:

Post a Comment