“Apa yang akan kau beli di kantin, Jo?”
“Hmmm, apa ya,” mulutku mengerucut.
“Mungkin roti isi selai cokelat kacang itu?”
Eloise menjulurkan lidah. “Yuck, aku benci kacang.”
“Kalau begitu, kamu beli apa?”
“Mungkin sandwich isi tuna yang baru itu. Kudengar dari Hayley rasanya
sangat lezat. Apalagi mayonais-nya yang sangat berasa musim pan—” Eloise
menyenggol sikuku. “Hei, apa yang sedang kau lihat, sih?”
Pandanganku terfokus pada seorang cowok di
ujung lorong yang asyik bercanda dengan temannya. Aku tahu kebiasaannya untuk
membeli roti isi selai cokelat kacang di kantin, sepuluh menit sebelum
istirahat usai.
“Aduh aduh, Joanne,” keluhan Eloise
terdengar samar-samar. “Kenapa sih, kamu tidak memperbaiki hubunganmu dengan
dia?”
Aku tersenyum. “Tidak, Loi. Tidak semua hal
yang sudah terjadi bisa kuulang lagi.”
***
Lisse, Netherlands 2000
Aku mempercepat langkahku, berusaha tidak
kehabisan napas. “Teo! Ayo dong cepetan!”
“Sabar dong, Jo!” seru Teo sambil mengunyah
roti isi selai cokelat kacangnya.
“Teo, Teo,” aku menggeleng. “Ke Nederland
pun kamu masih makan roti itu?”
“Hei, ini roti terenak sedunia tahu!”
Aku tertawa renyah. Gumpalan asap terbentuk
karena cuaca yang masih agak dingin di sini. Papa-mamaku dan Teo berjalan di
belakang kami, tertawa melihat kami yang sering bertengkar kecil.
Papa dan mama bertemu di tanah indah ini,
Nederland. Papa berasal dari Nederland, pertama kali melihat mama saat sedang
berwisata dengan mama Teo ke sini. Mama dan mama Teo memang sudah bersahabat
sejak kecil. Mama Teo juga bertemu suaminya di Nederland, hanya dalam waktu
yang berbeda. Itulah mengapa, aku dan Teo bisa menginjakkan kaki di tanah
Nederland meski kami masih berusia 5 tahun waktu itu.
Keluarga kami memutuskan menggelar piknik
di tengah ladang tulip, berlatar belakang kincir angin. Aku dan Teo masih
saling rebut roti isi selai cokelat kacang. Akhirnya mama membagi dua roti itu
dan kami selesai menangis.
“Joanne,” panggil Teo sambil terisak.
“Nanti kalau sudah besar, kita ke sini lagi ya?”
Keukenhof.
Waktu bunga tulip
bermekaran, angin semilir sejuk bertiup, langit cemerlang dengan awan sebentuk
gulali. Pemandangan paling membuai mata yang pernah kusaksikan seumur hidupku.
“Iya,” jawabku singkat.
“Janji?”
“Janji.”
***
Jakarta, Indonesia 2011
Akhir-akhir ini aku bingung dengan lokerku
yang selalu terdapat tulisan aneh semacam mati
kau, perebut cowok orang, dan berbagai macam umpatan kasar lainnya. Awalnya
aku mengira si pengirim salah loker, karena loker di sebelahku adalah milik
Carla yang sering mendapat perlakuan seperti itu, tapi ini sudah berlangsung
empat hari berturut-turut, jadi kupikir ada yang tidak beres.
“Wah, itu kriminal namanya,” tukas Eloise
ketika aku bercerita tentang hal itu padanya.
“Hmmm…”
Air muka Eloise tiba-tiba berubah.
“Jo, kamu… tidak ada masalah dengan Mildred kan?”
“Mildred?” gumamku heran. “Aku
bahkan jarang bicara dengannya!”
Eloise menarikku agar percakapan
kami tidak bisa didengar orang lain. Aku mendengarkannya ngeri dan heran bukan
main. Ekspresi Eloise serius sekali.
“Astaga, Loi,” kataku. “Tapi
Mildred suka dengan cowok dari sekolah lain!”
Eloise mengangkat bahu. “Dia
memang jahat kan? Lihat saja Carla.”
Aku mengedarkan pandanganku ke
sekeliling kantin dan mendapati Carla membawa tujuh gelas jus sekaligus. Tidak
ada yang berniat menolongnya karena di sisinya ada Mildred dan gengnya
mengawal.
Ketika Mildred menangkap
pandanganku, aku langsung kembali menghadap Eloise. “Loi, aku sungguh tidak mau
mencari masalah dengannya.”
“Tenang saja, aku tahu pasti
kamu tidak bersalah,” ujarnya. “Teo sudah tahu?”
Aku menggeleng lemah.
***
“Perebut cowok orang.”
Tengkukku merinding. Sepertinya
tadi ada yang berbisik di telingaku. Aku berbalik, mendapati Annette berbisik
dan menatapku tajam. Aku berusaha menghiraukannya dan kembali mengunyah roti
isi selai cokelat kacang dalam perjalananku ke kelas. Eloise menungguku dengan
bekalnya.
“JO!!” suara yang sangat
kukenal.
“TIMOTEO!” umpatku kesal.
“Berapa kali harus kubilang jangan sembarang rangkul!”
“Hahaha, maaf deh,” Teo
menggaruk rambutnya. “Ngomong-ngomong, kemarin aku membuat high-score baru di
game aneh yang disarankan olehmu itu, Jo!”
“Begitu?” ucapku, tapi mataku
menatap ke arah geng Mildred di depan kelas 2-3. “Bagus.”
“Ada apa, sih?” tanya Teo heran,
lalu mengikuti arah pandangku. “Wah! Mildred!”
Aku memutuskan untuk tidak
memberitahu Teo tentang perkara loker, dan tidak bertanya tentang apa
sebenarnya hubungannya dengan Mildred.
“Teo, aku balik ke kelas duluan
ya,” kataku akhirnya.
“Eh? Jo! Tunggu! Aku juga mau ke
kelas!”
Aku berjalan tanpa membalikkan
punggungku.
***
“Jo, aku heran dengan Mildred,”
celetuk Teo dalam perjalanan pulang sekolah, yang selalu kami tempuh bersama
dengan bersepeda.
“Kenapa?”
“Jadi begini ya, dia itu seperti
memberi harapan untukku,” kisah Teo. “Tapi kata Annette dia suka dengan cowok
dari sekolah lain. Kan aku jadi bingung.”
“Mungkin Annette salah?” kataku.
“Atau mungkin Mildred sudah merubah arah hati tanpa memberi tahu Annette.”
“Wanita memang susah dimengerti…”
“Tapi, Teo,” aku mengambil jeda
sedikit. “Kamu harus tetap berjuang, karena dialah yang selalu kamu mimpikan,
bukan begitu?”
“Aku tahu itu, aku berusaha,
Jo.” gumamnya. “Bagaimana, Dieter?”
“Wah, aku sudah tidak
mengharapkan apapun lagi tentang dia,” di benakku terbayang wajah Dieter, atlit
voli sekolahku yang sangat tampan, walaupun dingin. “Bagiku sekarang yang
paling penting adalah sahabat.”
“Benar juga. Habis kalau tidak
ada teman sepertimu, ke siapa aku harus bercerita ya.”
“Aku tidak bilang kamu penting
loh, Teo.”
“Aku juga tidak bilang kamu
penting.”
Aku sengaja menabrakkan roda
depan sepedaku ke pedal Teo. “Kalau nanti kamu sudah ada di gandengan Mildred,
jangan sombong ya.”
“Kamu juga jangan suka
membicarakan aku kalau nanti jadian dengan Dieter.”
“Kamu jangan lupa traktir aku
roti isi selai cokelat kacang.”
“Kamu masih berhutang satu
mangkuk ramen di kedai waktu itu.”
Aku menghela napasku pelan.
“Jangan pergi, Teo.”
“Hei,” Teo turun dari sepedanya,
mengusap air mataku yang sudah bercucuran. “Sejauh apapun seorang sahabat
pergi, jika ia adalah sahabat sesungguhnya, pasti ia akan pulang.”
Hening sejenak.
“Dan Jo, aku bersyukur telah
menemukan rumahku.” ujarnya misterius.
***
Eloise akhir-akhir ini jarang
masuk karena ibunya harus dirawat di rumah sakit. Biasanya, ada Teo yang
menemaniku ke kantin, tapi sekarang frekuensi keberadaannya bisa dihitung
jariku. Bahkan dia tidak pernah meminta jawaban pekerjaan rumah matematika saat
istirahat seperti kebiasaannya dulu.
Jadi di sinilah aku, duduk di
kelas sendirian, di mejaku yang dekat dengan jendela. Memakan roti isi selai
cokelat kacang tanpa minat dan melayangkan pandanganku ke awan yang seperti
gulali.
Mildred merapat ke sisiku,
membuatku ambil jarak sedikit. “Wah, sepertinya ada yang sendirian?”
Aku terlalu malas untuk
menanggapinya.
Mildred berdecak. “Jangan sombong
deh. Sekarang lo sudah sendiri. Sen-di-ri.”
Satu sentipun aku tidak
bergerak, membuat Mildred menatapku sengit. Dia hendak menendang mejaku ketika
suara seorang cowok menghentikannya.
“Minggir. Ini meja gue.”
“Apa-apaan sih!” Annette segera
bersiap memukulnya.
“Ini. Meja. Gue.” tegasnya.
“Pergi.”
Geng itu segera keluar kelas
sambil bersumpah serapah. Entah mengapa, sedikit rasa lega muncul di hatiku.
“Enakan roti isi krim pisang
madu,”
“Eh?”
“Roti isi selai cokelat kacang
terlalu manis,” lanjutnya, lalu membuka kemasan roti.
“Jangan ngomong sama gue,”
kataku sok tegar. “Nanti lo dimusuhin juga.”
Alis cowok itu mengernyit. “Apa
peduli gue? Gue ngomong dengan orang yang gue mau.”
Air mataku sudah menggenang.
Selama ini, dia hanya teman sebangkuku yang sering mengoceh tentang musik dan
film pahlawan super. Aku tidak pernah menyangka cowok ini yang akan
menyelamatkanku.
“Ei! Jangan nangis dong! Entar
gue dikira yang aneh-aneh!” ia mengambil tisu dan memberikannya padaku.
“Jose,” panggilku setelah puas
terisak. “Makasih.”
Ia menepuk kepalaku pelan.
***
Jose masih memaksaku untuk
mencoba roti isi krim pisang madu sampai saat ini. Aku berkeras pada roti isi
selai cokelat kacang, karena meskipun tidak berbicara dengan Teo lagi,
setidaknya aku masih makan roti yang sama dengannya.
Jose bilang itu alasan bodoh,
tapi hanya hal itu yang terlintas di benakku setiap kali aku membeli roti isi
selai cokelat kacang. Lagipula, malas rasanya kalau harus makan roti yang sama
dengan Jose. Maksudku, dia pasti akan sombong setengah mati, mengetahui aku
tergoda juga oleh roti unggulannya.
Hari itu, Eloise tidak masuk
lagi. Jadi mau tidak mau, aku pergi ke kantin bersama Jose. Sepanjang jalan ke
kantin, pandangan sebal terhujam ke arahku. Aku tahu pasti itu perbuatan
Mildred. Tapi aku merasa mendingan karena Jose selalu berbuat hal kocak selama
kami berjalan bersama.
Ketika kami berbelok di lorong
kantin, aku mendapati Teo memandangku. Aku segera mengajak Jose untuk
mempercepat langkah, ia pun melaksanakan walau agak kebingungan. Kakiku
terhenti ketika Teo menggenggam tanganku. Jose langsung jalan cepat kembali ke
kelas. Aku terpaku, tidak memiliki nyali menatap mata Teo.
“Kita harus ngomong banyak hal.
Bukan begitu?” aku tahu ini bodoh, tapi suara Teo saja membuat seluruh tubuhku
gemetar. “Ayo, ke lapangan.”
***
“Tidak ada yang perlu dijelaskan
lagi, Teo.”
“Aku benar-benar minta maaf,
Joanne.” Teo menundukkan kepalanya. “Sungguh, aku minta maaf.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan
juga,” aku menegakkan tubuhnya. “Kamu sudah membuat keputusan yang benar.
Mildred itu orang yang kamu suka sejak sekolah dasar. Aku cuma temanmu, Teo,
tidak lebih. Bahkan mungkin sekarang teman pun bukan.”
“Itu gak benar!!!” ucapnya
cepat. “Jo, kamu sahabatku yang paling berharga. Ingat itu, Jo.”
“Hidup itu tentang pilihan,” aku
duduk di kursi penonton lapangan rugby sekolah. “Dan pada akhirnya, sangat
wajar bila kamu memilih kekasih dibandingkan sahabatmu. Aku mengerti. Kamu
hidup sampai tua dengan kekasih hatimu, bukan dengan sahabat.”
“Kamu membuat ini semua terlalu
mudah, Jo.”
“Memangnya aku harus bagaimana?”
“Ini, karena kamu sudah dengan
Jose?”
“Tidak ada hubungannya dengan
Jose,” tandasku. “Dia ada di saat aku
membutuhkannya. Itulah definisi sahabat bukan?”
Teo menatapku nanar. “Jadi
selama ini kamu anggap aku apa?”
“Sebelum masalah ini, kamu kakak
lelaki yang tidak pernah aku punya,” kataku perlahan. “Sekarang kamu bahkan
membela dia, bahkan ketika kamu tahu aku tidak bersalah.”
“Joanne..”
“Sudah, Teo. Aku mengerti.
Pergilah.”
“Aku tidak akan pergi sampai
kamu memaafkanku.”
“Kamu pandai sekali memainkan
perasaanku,” ucapku bergetar menahan emosi. “Kamu kira aku apa? Kamu
mendiamkanku sepanjang waktu dan tidak melakukan apapun saat aku ditindas
Mildred, dan sekarang kamu bilang kamu tidak akan pergi?”
Aku mendengus. “Cukup, Teo.”
“Jo, aku..”
Sebelum Teo sempat menyelesaikan
ucapannya, aku berlari kembali ke kelas. Bulir-bulir bening mengaliri wajahku,
membuat semua orang yang melihatku tertawa jijik.
Aku tidak peduli.
***
Jakarta, Indonesia 2012
“JOANNE!” aku mendongak dan
mendapati Eloise berdiri di hadapanku, membawa selebaran kertas. “Kamu sudah
memutuskan masuk universitas mana?”
“Aku tidak tahu universitas mana
tepatnya,” jawabku. “Tapi sudah pasti di Nederland.”
Eloise tertawa pelan, lalu duduk
di kursi Jose. “Dari sekolah menengah pertama, kamu selalu menjawab itu.”
Aku hanya menjawabnya dengan
senyuman, kemudian teringat pada Teo. Apakah dia akan kuliah di sana juga?
Apakah dia masih ingat dengan janjinya? Ah. Saat berpikir tentang Teo, aku
ingin sekali kembali seperti dulu. Pohon mapel sekolah yang berada tepat di
tengah lapangan membuatku ingat saat-saat kami pulang bersama, menggowes sepeda
di bawah rindangnya daun mapel merah yang berguguran.
Pintu kelas terbuka menimbulkan
bunyi berdecit. Aku dan Eloise segera melihat Teo masuk kelas dengan wajah
murung. Rasa heran muncul di benakku karena biasanya Teo selalu bersama Mildred
akhir-akhir ini. Aku merasakan dorongan dalam hatiku untuk menanyakan ada apa
padanya, tapi egoku menahannya.
“Kamu gak tanya dia kenapa?”
Eloise menjentikkan jari di depanku yang bengong.
“Tidak,” jawabku pelan. “Dia
baik-baik saja tanpaku, Loi.”
Aku mengatakan itu karena
beberapa dari teman sekelas kami, seperti Franco dan Miguel segera menepuk bahu
Teo pelan. Dalam seketika, Teo sudah tersenyum kembali.
Senyumnya
yang selalu mengingatkanku pada bunga tulip.
***
Aku
sedang menaruh buku pelajaran sains di loker ketika tidak sengaja mendengar
Annette berkasak-kusuk dengan Katya, teman se-gengnya.
“Wah,
jadi benar tuh, Mildred suka dengan Franco?” alis Katya terangkat, kaget.
“Iya
benar!” suara Annette terdengar yakin. “Sebenarnya aku kasihan juga dengan
Teo.”
“Kamu
tahu dari mana?”
“Kemarin
kita ke karaoke kan? Nah, aku dan Mildred kan memutuskan untuk pulang duluan,”
jelas Annette pada sahabatnya itu. “Aku sih, disuruh belanja ke supermarket
menemani mama. Lalu saat di stasiun, aku melihat Mildred menggandeng tangan
Franco!”
“Ah,
mungkin hanya kebetulan!” Katya tidak percaya.
“Dengar
dulu dong!” Annette bersikeras. “Setelah itu, aku mengikuti mereka. Dan mereka skating di arena dekat stasiun itu.
Mereka terlihat sangat mesra, percayalah!”
“Hahahaha,
Mildred juga bilang padaku sih, dia hanya malas melihat Joanne—saingannya di
klub voli dekat dengan Teo,” tawa Katya. “Katanya, Joanne tidak pantas untuk
idola sekolah seperti Teo.”
Teo
memang begitu adanya. Rambut cokelat, hidung mancung, mata hazelnut, badan ala anak klub sepakbola, dan otak yang cemerlang.
“Joanne
tidak buruk-buruk amat, sih,” Annette menyela. “Rambut pirang dan mata birunya
itu. Enak sekali menjadi anak blasteran!”
“Sayangnya
dia bodoh, menyerahkan Teo ke Mildred. Padahal jelas-jelas Teo pun ada rasa
padanya.”
Aku
segera membanting loker, lalu berlari ke tempat parkir sepeda. Pikiranku sudah
tidak sanggup menerima informasi busuk macam itu. Aku ingin berlari ke tempat
Teo, meyakinkannya kalau memilih Mildred adalah salah. Tapi itu semua sudah
terlambat. Teo bahkan tidak pernah melirikku di sekolah. Ia berlatih dengan
klub sepakbola setiap hari sampai petang.
Masa-masa
indahku dengan Teo sudah berlalu.
***
Jakarta, Indonesia 2013
Gaunku
menyangkut di pintu mobil ketika aku menutup pintunya. Jose dengan sigap
membukanya kembali, lalu menggandeng tanganku. Wali kelasku menjabat tangan
semua orang yang datang, mengenakan jas yang keren.
“Selamat
ya, Joanne, Jose.” ujarnya, aku tersenyum dan agak membungkuk. Beliau sudah
bekerja keras mengurusi anak kelas dua belas yang nakal-nakal di kelasku.
“Terima
kasih atas bimbingan Bapak selama tiga tahun ini.” kata Jose mewakiliku.
Kami
pun melanjutkan masuk ke dalam aula sekolah yang telah disulap menjadi ballroom bertemakan hitam-ungu. Eloise
melambai-lambai ke arahku. Miguel ada di gandengannya. Setelah mengungkapkan
perasaan saat libur musim panas tahun lalu, cinta Eloise akhirnya terbalas.
Prom kelas dua belas adalah hal yang paling ditunggu-tunggu anak
sekolahan mana pun. Berdansa dengan pasanganmu dengan alunan waltz, bersenda gurau dengan gengmu
untuk terakhir kalinya di sekolah menengah atas, dan menandakan umurmu sudah
cukup untuk menjelajah dunia luas.
Jose
mengajakku ke prom minggu kemarin.
Katanya, dia sudah tidak punya pilihan lain lagi, daripada datang sendirian.
Aku menyanggupinya karena memang tidak ada orang spesifik yang aku inginkan
untuk berdansa dengannya. Jadi sekitar 45 menit yang lalu, Jose menjemputku di
depan rumah.
Papa
dan mama sempat heran, mengapa bukan Teo yang menjemputku. Aku belum
membicarakan perkaraku dengan Teo kepada mereka karena terlalu menyakitkan.
Setelah berbincang sebentar dengan orangtuaku, kami berdua pun berangkat ke prom.
***
Eloise
muncul dari belakangku. “Mau makan apa Jo?”
Dari
tadi, aku sudah memperhatikan éclair isi
cokelat kacang di bagian pastry. “Aku
mau kesana. Tinggal satu éclair-nya!
Aku harus bergegas!”
Memakai
gaun panjang agak memperlambat jalanku, tapi aku tetap berjalan secepat yang
aku bisa. Aku mengambil piring kecil, lalu menggunakan capit untuk memindahkan éclair ke piringku. Tepat saat capitku
menyentuh éclair, sebuah capit lain
juga menyentuhnya.
Hatiku
kacau bukan main melihat pengguna capit itu. Mata hazelnut yang tidak akan aku lupakan. “Teo.”
“Ah,
hei,” katanya kikuk. “Silakan, ambil saja untukmu.”
“Tidak
usah. Ini favoritmu kan?”
“Tidak
apa, bena—“
Ucapan
Teo terputus saat Mildred meraih tangannya dan mencapitkan éclair itu ke piring Teo. Aku membatu.
“Ayo
pergi, Teo.” Mildred menyipitkan matanya ke arahku tanda kemenangan.
Tanpa
kusadari, Jose sudah berdiri di belakangku. Mataku langsung berkaca-kaca. Cowok
itu benar-benar selalu ada saat aku
membutuhkannya.
“Jangan
nangis, nanti make-up-nya luntur,” ia
mengusap pipiku. “Dansanya udah mau mulai, shall
we?”
Aku
menyambut ajakan tangan Jose yang terulur.
***
Aku
dan Jose memang bukan penggemar Mozart atau Chopin, tapi kami berdansa dengan
cukup baik. Sekali-kali, Jose melontarkan lelucon yang membuat tawaku meledak.
Seru sekali berteman dengan orang yang suka bergurau.
“Ngomong-ngomong,
Jo,” Jose mempererat genggamannya. “Bagaimana beasiswa lo ke Nederland?”
“Masih
di proses,” jawabku. “Lo jadi ke Amerika kan?”
“Iya,”
lagu Blue Danube mengalun pelan. “Ini hari terakhir kita bertemu loh, Joanne.”
“Gue
bakal kangen lo, deh,”
“Terpaksa
banget ngomongnya,”
Aku
kembali tertawa, dan Jose menghentikan dansanya tiba-tiba.
“Kenapa?”
Jose
terdiam beberapa detik.
“Joanne,”
“Iya?”
Blue
Danube memenuhi ruangan.
“Sebelum
gue pergi, gue mau ngomong ini.”
“Serius
banget kelihatannya. Ada apa memang?”
“Joanne,”
panggilnya untuk yang ke dua kali.
“Iya,
Jose?”
“Please be mine.”
“Bercanda
lo gak lucu deh.”
“Gue
selama ini peduli sama lo, Joanne. Gue selama ini merhatiin gimana lo disakiti
terus menerus sama Teo. Lo juga pantas bahagia.”
Aku
tidak dapat membalas perkataan Jose.
“Joanne,
kita hanya akan kuliah selama 4 tahun, setelah itu kita akan bersama terus. Gue
janji.”
Aku
tahu aku akan bahagia bersama Jose. Aku tahu pasti. Tapi hal kedua yang aku
tahu pasti adalah, hatiku milik Teo. “Maaf, Jose. Gue bener-bener gak bisa.”
“Kenapa?
Karena Teo?” Jose mencengkram bahuku. “Jangan, Joanne.”
“Jose,”
aku memandang mata Jose yang sehijau koral. “Kamu adalah sahabatku yang sangat
berharga. Aku suka kamu, sangat. Tapi ada perbedaan tipis antara cinta dan
suka, Jose.”
“Kalau
begitu jelaskan,”
“Kalau
kamu di ladang bunga, lalu kamu melihat bunga yang indah, apa yang akan kamu
lakukan?”
“Memetiknya,
gue jadiin koleksi bunga kering.”
“Itu
namanya suka, Jose,” aku tersenyum simpel. “Kalau kamu cinta, kamu tidak akan
memetiknya, melainkan membiarkannya tumbuh, dan mekar karena siraman airmu.”
Gantian
Jose yang terdiam.
Aku
mengehela napas, lalu menggenggam tangan Jose. “Suatu saat, kamu akan temukan
cintamu. Bunga yang ingin kamu rawat seumur hidupmu. Dan itu bukan aku. Aku
tidak cukup baik untuk kembali menyiramimu.”
“Sungguh
Jose, terima kasih.”
Aku
melangkahkan kaki keluar aula, dan menelepon papa untuk menjemputku,
meninggalkan Jose yang masih terdiam.
“Bagaimana kamu tahu bunga itu bukan kamu,
Joanne?”
***
Lisse, Netherlands 2015
Harum tulip menyergapi hidungku.
Sudah lama sekali aku tidak datang ke Lisse, terakhir kali saat aku berumur
lima tahun dulu. Hamparan tulip yang sangat indah membuatku seketika melupakan
tugas kuliah yang menumpuk dan menjernihkan pikiran.
Teo. Dimana ya, dia sekarang?
Terakhir kali aku melihat Teo
adalah saat prom SMA dulu. Jose masih
meneleponku sekali-kali, dan memintaku berkunjung ke New York untuk melihat
kampusnya yang super keren. Aku juga menyuruhnya melihat Nederland yang asri
dan menenangkan. Eloise meneruskan kuliah di Jakarta, mengejar cita-citanya
menjadi sastrawan dan penerjemah. Tahun lalu, dia berkunjung ke sini.
Sedangkan Teo?
Sesudah berkeliling selama dua
jam, aku menyusuri jalan yang telah kulalui untuk pulang dengan naik bus.
Sekelebat aku mencium harumnya selai cokelat kacang di antara tulip dari
belakangku. Aku membalikkan tubuh karena penasaran.
Mata hazelnut itu, aku tidak pernah salah. Dan roti itu. Terlalu pas
untuk kebetulan.
“Aku berhutang padamu éclair.” Suara itu. “Jadi kubayar dengan
roti ini.”
Tangisanku pecah saat itu juga.
Dia segera mendekat dan memelukku erat.
“Janji adalah janji bukan?”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu kamu kangen
roti isi selai cokelat kacang.”
Teo tepat sekali. Lidahku kangen
dengan roti yang selalu kumakan saat SMA dulu.
“Kamu tidak akan pergi lagi?”
Teo menggeleng. “Sometimes a home is two eyes and a
heartbeat.”
***
Keukenhof. Musim di mana bunga kebanggaan Nederland dalam kondisi
terindahnya. Langit cemerlang dengan awan sebentuk gulali. Bersama sepasang
mata hazelnut itu, dan roti isi selai
cokelat kacang. Tulip mekar yang memegang janjiku dengannya.
“Hei, Teo,”
“Hmmm?”
“Welcome home.”